I.
JUDUL
Kondisi
Sosial Ekonomi Masyarakat Nelayan Desa Bajomulyo, Kecamatan Juwana, Kabupaten
Pati, Jawa Tengah
II.
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan
terbesar di dunia dengan luas lautan meliputi 2/3 luas keseluruhan wilayahnya
dan memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Kondisi ini
menyebabkan Indonesia memiliki potensi kelautan dan biodiversity
(keanekaragaman hayati) yang sangat tinggi. Kekayaan laut yang sangat besar ini
menuntut penggunaan berbagai macam alat tangkap dan memanfaatkannya. Namun, dengan
kekayaan laut yang demikian basarnya bersebrangan dengan potret sebagian besar
khalayak yang menganggap para nelayan masih hidup di bawah garis kemiskinan (Basri,
Hasanudin. 1985).
Juwana adalah sebuah kecamatan di
Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kota Juwana terletak di jalur
pantura yang menghubungkan kota Pati dan kota Rembang. Kecamatan ini mempunyai
banyak lapangan kerja. Hal yang menjadi ciri khas Kecamatan Juwana adalah usaha
kerajinan logam kuningan yang sebagian besar terdapat di Desa Growong Lor dan
sekitarnya, serta usaha tambak perikanan di Desa Bajomulya, Agung Mulyo dan
desa-desa sekitarnya. Pelabuhan Juwana menjadi salah satu tulang punggung
kekuatan perekonomian kecamatan Juwana. Pelabuhan ini menjadi salah satu pintu
masuk kapal-kapal pengangkut kayu dari Kalimantan (sekarang sudah tidak aktif).
Hasil tambak maupun tangkapan nelayan yang didapat antara lain: bandeng, udang,
tongkol, kakap merah, kepiting, ikan pe, cumi, dan kerapu (Sudarso.
2007).
Kondisi perikanan Juwana khususnya
di Desa Bajomulyo yang demikian terpapar di atas akan menjadi suatu penelitian dan
pembahasan yang menarik kaitannya dengan potret masyarakat terhadap pola hidup
nelayan atau bagaimana aspek kehidupan sosial ekonomi nelayan sehingga
bagaimana pula pengaruhnya kegiatan perikanan masyarakat Juwana terhadap
perekonomian daerah.
B.
Tujuan
1.
Mendapat
informasi seputar aktivitas perekonomian masyarakat perikanan di desa
Bajomulyo, Pati, Jawa Tengah.
2.
Mengembangkan
wawasan mahasiswa dalam bidang sosial ekonomi perikanan.
C.
Manfaat
1.
Dapat
mengetahui secara langsung bagaimana kegiatan sosial ekonomi masyarakat
perikanan di Desa Bajomulyo khususnya
dalam sektor penangkapan.
2.
Dapat
mengetahui bagaimana kondisi perikanan tangkap berpengaruh terhadap
perekonomian masyarakat perikanan di daerah Pati.
III.
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Kondisi
Umum Bajomulyo
Bajomulyo adalah desa di kecamatan
Juwana, Pati, Jawa Tengah, Indonesia.
Desa ini terletak arah tenggara pusat kota kecamatan. Letaknya yang
tepat di tepi Sungai Juwana yang juga menjadi pelabuhan dan Tempat Pelelangan
Ikan menjadikan desa ini identik dengan sebutan "kampung nelayan".
Tapi di desa Bajomulyo ini, keadaanya berbeda dengan desa-desa nelayan pada
umumnya di Indonesia. Di desa ini nelayan hidup dengan makmur dan sejahtera,
bahkan kehidupan mereka rata-rata masuk dalam kalangan menengah ke atas dan
penyumbang pendapatan daerah terbesar di Kabupaten Pati adalah Kecamatan
Juwana, dan desa Bajomulyo memiliki andil besar atas itu. Oleh karena itu, sebagian
besar penduduk desa Bajomulyo bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani
tambak baik tambak udang windu, bandeng maupun petani garam. Namun karena
dekatnya dengan pusat kota tidak sedikit pula yang berprofesi di bidang niaga
dan jasa (Republika, 1993).
Desa Bajomulyo merupakan salah satu desa
dari 29 desa yang berada di Kecamatan Juwana memiliki wilayah seluas 74.800 Ha.
Desa Bajomulyo yang lokasinya berdekatan dengan pantai laut utara Jawa ini
secara geografis terletak di posisi 06° 42’ Lintang Selatan dan 111° 09’ Bujur Timur. Bentuk permukaan tanahnya mulai dari datar sampai
berombak dengan ketinggian rata – rata dari permukaan laut sebesar 5,8 m. Di desa
Bajomulyo tidak terdapat sawah atau kebun yang dapat menghasilkan, karena jenis
tanahnya yang kurang cocok untuk digunakan bertani. Tanah yang kondisinya
kering dan cukup dekat dengan pantai ini, oleh penduduk setempat untuk
keperluan tambak udang dan bandeng. Berikut tabel penggunaan tanah di Desa Bajomulyo
beserta luas lahannya (Sudarso. 2007).
B.
Kegiatan
Penangkapan
Sejak diadakan
pengerukan muara sungai pada tahun 1984, semakin banyak kapal yang membongkar
hasil tangkapannya di PPI Bajomulyo untuk dilelang. Hasil pengerukan ini
menjadikan alur pelayaran menjadi cukup dalam sehingga dapat dilalui oleh kapal
– kapal besar yang memiliki draft kapal yang cukup dalam. Sebelumnya hanya
kapal – kapal/perahu dengan ukuran kecil sampai sedang saja yang dapat keluar
masuk ke PPI bajomulyo. Kapal/perahu yang berada di PPI Bajomulyo seluruhnya
telah menggunakan motor mesin sebagai alat penggeraknya. Penggolongannya dibagi
menjadi dua, yaitu kapal motor dan perahu motor tempel. Kapal motor dibagi lagi
menjadi tiga kelompok yang berlainan tonasenya, yaitu kapal dengan ukuran
tonase (100-125 GT), (10-20 GT), dan (6-7,5 GT) ((diskanlut-jateng.go.id).
Kapal dengan ukuran 6-7,5 GT adalah kapal yang paling banyak
dimiliki oleh nelayan bajomulyo. Kapal ini biasa dioperasikan untuk alat
tangkap pancing prawe, alat tangkap yang menjadi favorit nelayan – nelayan di
PPI bajomulyo karena selain memang hasil tangkapannya memberikan penghasilan
yang cukup besar untuk tiap kali tripnya, juga harga per unit penangkapannya
yang masih terjangkau. Uang dari hasil lelangnya dapat dengan cepat menutup
modal yang dikeluarkan sehingga hal ini merangsang para nelayan untuk menambah
armadanya kembali (Republika, 1993).
Perahu motor tempel akhir – akhir ini sejak mulai ramainya
diperkenalkan kapal purse seine dan kapal pancing prawe, aktivitas keberadaanya
sudah mulai tergeser. Mereka dioperasikan hanya pada saat musim ikan tertentu
karena perahu jenis ini dilengkapi alat tangkap yang mengikuti keadaan musim
ikan yang sedang berlangsung. Hal ini berarti operasi penangkapannya tidak
berlangsung sepanjang tahun seperti yang dilakukan oleh kapal – kapal purse
seine dan pancing prawe. Mereka akan beristirahat kembali bila musim ikannya
telah selesai. Dahulu sebelum ada kapal purse seine perahu dari jenis inilah
yang mendominasi armada penangkapan di PPI Bajomulyo. Alat penggeraknya pun
waktu itu ada yang masih menggunakan layar dan operasi penangkapannya tidak
jauh dari pantai, yaitu paling jauh sampai 1 mil (Republika,
1993).
Nelayan yang ada di PPI Bajomulyo selain berasal dari penduduk
setempat juga banyak yang berasal dari luar Juwana. Nelayan – nelayan kapal
purse seine yang jumlah kapalnya lebih
banyak daripada jumlah kapal nelayan setempat, kebanyakan berasal dari
Pekalongan. Sebagian lagi ada yang berasal dari Tegal dan Batang. Umumnya
nelayan – nelayan yang datang ke PPI Bajomulyo adalah nelayan yang menggunakan
kapal dengan ukuran cukup besar, seperti kapal purse seine. Nelayan – nelayan
Banyuwangi datang ke PPI Bajomulyo dengan kapal yang berukuran antara 10-20 GT,
kapalnya dilengkapi dengan alat tangkap jaring nilon yang biasa digunakan untuk
menangkap ikan tongkol. Ada juga nelayan – nelayan yang dipanggil oleh juragan
pemilik kapal untuk mengoperasikan kpalnya, seperti yang banyak dilakukan pada
kapal – kapal dengan alat tangkap pancing prawe. Nelayan – nelayan ini biasanya
didatangkan dari Batang, Demak dan Rembang (Republika, 1993).
Wilayah perairan yang bisa dijadikan daerah penangkapan oleh kapal
– kapal yang mendaratkan ikannya di PPI Bajomulyo adalah wilayah perairan Laut
Jawa dan sebagian perairan Laut Cina Selatan. Tiap jenis kapal biasanya daerah
penangkapannya berbeda. Kapal – kapal purse seine yang mempunyai nilai GT yang
besar biasa menangkap ikan sampai ke perairan Laut Cina Selatan (diskanlut-jateng.go.id).
IV.
METODE
A.
Waktu
dan Tempat Praktikum
Praktikum lapangan ini dilakukan
pada tanggal 1-2 Juni 2013 di Desa Bakaran dan Desa Bajomulyo, Kecamatan
Juwana, Kabupaten Pati Provinsi Jawa
Tengah.
B.
Metode
Dasar
Metode kajian adalah metode survei
dan observasi lapangan. Menurut Singarimbun dan Effendi (1995) penelitian
survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan
menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok. Proses
pengumpulan data dilakukan melalui interaksi secara langsung dengan responden.
Penelitian survei dapat digunakan untuk eksplorasi, deskriptif, maupun
penjelasan dan prediksi atau meramalkan kejadian tertentu di masa yang akan
datang.
C.
Metode
Penentuan Sampel/Responden
Populasi yang menjadi pusat kajian
praktikum ini adalah nelayan, pembudidaya ikan, dan pengolah ikan. Pemilihan
sampel menggunakan metode snowball sampling. Menurut Somekh dan Lewin
(2005) metode snowball sampling merupakan metode pemilihan responden
dengan pemilihan sejumlah kecil dari populasi dengan karakteristik tertentu,
yang selanjutnya dijadikan responden, yang diminta untuk memberikan rekomendasi
untuk responden berikutnya. Teknik ini menggunakan satu orang utama sebagai
informan kunci yang akan terus bergulir menuju informan berikutnya hingga
kualitas data yang diharapkan dapat terpenuhi (Idrus, 2009). Dalam hal ini
praktikan dapat mendatangi tetua atau ketua kelompok atau petugas pemerintahan
yang menjadi tokoh kunci di desa pada masing – masing kegiatan, yang dapat
dianggap sebagai informan pertama (responden pertama) untuk mengawali teknik snowball.
Informan pertama diharapkan memberi rekomendasi calon informan selanjutnya,
sampai jumlah responden yang ditentukan diketahui.
D.
Teknik
Pengumpulan Data
1.
Kuesioner
Metode ini biasa digunakan untuk menyelidiki pendapat orang dan
sikap. Metode angket adalah suatu metode penelitian yang berupa daftar
pertanyaan untuk memperoleh data berupa jawaban – jawaban dari responden.
Kuesioner pada praktikum ini digunakan untuk memperoleh informasi dari sejumlah
pelaku usaha perikanan yaitu untuk bidang penangkapan, budidaya dan pengolahan.
2.
Metode
Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah pengumpulaan data dengan cara melihat dan
memperhatikan serta mengolah dokumen – dokumen yakni melalui arsip – arsip
surat serta catatan – catatan dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan atas
kebenarannya. Metode dokumentasi pada praktikum ini sebagai sumber untuk
mendapatkan informasi atau data administrasi dari kegiatan usaha perikanan yang
dilakukan oleh responden.
3.
Metode
Wawancara
Metode wawancara adalah dialog yang dilaksanakan oleh pewawancara
(praktikan) untuk memperoleh informasi dari responden yang fungsinya untuk
meneliti atau menilai keberadaan seseorang, misalnya untuk memperoleh data
tentang latar belakang pendidikan orang tua, serta sikapnya terhadap sesuatu.
4.
Metode
Observasi
Metode observasi adalah pencatatan dan pengamatan fenomena – fenomena
yang diselidiki secara sistematik. Metode observasi adalah metode pengumpulan
data dengan jalan mengamati, meneliti, dan mengukur kejadian atau peristiwa
yang sedang berlangsung (Kusmayadi, 2000).
E.
Tabulasi
dan Analisis Data
Tabulasi data dilakukan dengan
menggunakan program MS. Excel. Data yang telah didapatkan akan ditabulasikan
untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi sosial ekonomi dari para pelaku
usaha perikanan (responden) yang telah diwawancarai sebelumnya. Berdasarkan
hasil tabulasi data selanjutnya dianalisis secara deskriptif.
V.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Keadaan
Umum
Secara geografis desa Bajomulyo Juwana kabupaten Pati merupakan
tipologi daerah pantai/pesisir dan sekaligus menjadi bagian tidak terpisahkan
dengan eksistensi daerah pesisir. Desa ini memiliki batas – batas wilayah
dengan desa – desa tetangganya adalah sebagai berikut (diskanlut-jateng.go.id)
:
·
Sebelah
utara berbatasan dengan Desa Babakan Wetan,
·
Sebelah
selatan berbatasan dengan Desa Kudu Keras,
·
Sebelah
barat berbatasan dengan Desa Growong Lor,
·
Sebelah
Timur berbatasan dengan Desa Bendar.
Desa
Bajomulyo dengan tipologi daerah pantai/pesisir sebagian besar masyarakatnya
adalah nelayan. Hal ini pun juga diakui oleh Bu Tarso, istri salah satu juragan
kapal jaring cumi yang sempat diwawancarai. Beliau memberikan informasi bahwa
memang desa Bajomulyo ini adalah desa nelayan, beliau juga menambahkan bahwa
juga ada desa yang sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai guru dan
juga desa yang sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai buruh. Dari
Pernyataan Bu Tarso ini dapat menganalisa dan menduga bahwa di kecamatan Juwana
ini nampak desa – desa khusus dengan masyarakat berprofesi tertentu seperti
desa nelayan, desa buruh, desa petani, atau desa guru. Informasi ini
menunjukkan persebaran profesi desa Bajomulyo saat ini tidak sama dengan sebelumnya yakni pada tahun
1992. Berdasarkan data yang ada pada tahun 1992 mata pencaharian penduduk desa
Bajomulyo sebagian besar adalah buruh dan nelayan. Jumlah persentase nelayan
hanya mencapai 19% dari seluruh jumlah angkatan kerja. Angka ini bukan jumlah
terbesar, karena angkatan kerja yang lain tersebar di sektor lainnya. Berikut
persebaran mata pencaharian masyarakat desa Bajomulyo pada tahun 1992.
B.
Sarana
dan Prasarana
Pengertian sarana di
sini adalah fasilitas fisik yang dibangun untuk melakukan berbagai aktivitas
sehari – hari, seperti gedung sekolah, kantor, tempat beribadah dan sebagainya.
Sedangkan prasarananya adalah berupa lahan tempat sarana tersebut dibangun.
Fasilitas untuk menunjang kelancaran transportasi dari dan menuju ke wialayah
desa Bajomulyo telah dibangun, yaitu berupa jalan yang sudah beraspal maupun
yang belum diaspal. Jalan dusun yang panjangnya ± 7 km dan lebar 4 meter
menghubungkan wilayah – wilayah di desa Bajomulyo dengan desa – desa
tetangganya. Jalan ini sebagian besar sudah beraspal akan tetapi tampak
beberapa sudah mulai rusak.Sarana yang merupakan faktor utama pendukung
kegiatan perikanan di desa Bajomulyo adalah pelabuhan perikanan pantai (PPP) (diskanlut-jateng.go.id).
Pelabuhan Perikanan
adalah merupakan fasilitas pelayanan umum yang pembangunan dan pembinaannya
menjadi kewajiban Pemerintah. Batasan tersebut pengertiannya dapat diperluas
menjadi Pelabuhan Perikanan maupun pangkalan pendaratan ikan adalah tempat
bertambat dan berlabuh perahu/kapal perikanan, tempat mendaratkan hasil
perikanan, yang kesemuanya itu merupakan suatu lingkungan kerja kegiatan
ekonomi perikanan yang meliputi areal perairan dan daratan dalam rangka memberikan
pelayanan umum dan jasa untuk memperlancar kegiatan berproduksi perahu/kapal
dan usaha perikanan. Oleh karena itu pelabuhan perikanan/pangkalan
pendaratan ikan mempunyai fungsi (diskanlut-jateng.go.id)
:
·
Pusat pengembangan masyarakat
nelayan.
·
Tempat berlabuh perahu/kapal
perikanan.
·
Tempat pendaratan ikan hasil
tangkapan.
·
Tempat untuk memperlancar kegiatan
perahu/kapal perikanan.
·
Pusat penanganan dan pengolahan
hasil perikanan.
·
Pusat pemasaran dan distribusi ikan
hasil tangkapan.
·
Pusat pelaksanaan pembinaan mutu
hasil perikanan.
·
Pusat pelaksanaan penyuluhan dan
pengumpulan data perikanan.
·
Pusat pengawasan penangkapan dan
pengendalian pemanfaatan sumber daya ikan.
Mengingat
pelabuhan perikanan sebagai pusat kegiatan ekonomi perikanan dan tempat berlabuhnya
kapal/perahu perikanan maka di pelabuhan perikanan/pangkalan pendaratan ikan ini
dapat dilaksanakan sosialisasi berbagai kebijakan maupun peraturan-peraturan
yang berlaku berkaitan dengan kegiatan ekonomi perikanan serta pengawasan dan
pengendalian pemanfaatan sumberdaya perikanan. Demikian halnya dengan PPP
(Pelabuhan Perikanan Pantai) Bajomulyo Juwana sebagai Pelabuhan Type C yakni
pelabuhan perikanan yang skala layanannya sekurang-kurangnya mencakup kegiatan
usaha perikanan di wilayah perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut
teritorial dan zona ekonomi eksklusif indonesia.
Sebagaimana wilayah pantai utara pada umumnya, maka daerah kerja
PPP Bajomulyo Pati mempunyai konfigurasi pantai yang landai, kondisi perairan
dengan ombak yang tidak begitu besar, serta didukung oleh adanya sungai-sungai.
Kondisi ini merupakan faktor utama dalam mengembangkan kegiatan usaha
penangkapan ikan secara bertahap, yaitu usaha penangkapan ikan yang dimulai
dengan menggunakan kapal ukuran kecil, kemudian bagi nelayan yang mampu dapat
meningkatkan secara bertahap menjadi usaha penangkapan ikan dengan menggunakan
kapal berukuran besar, dengan berbagai jenis alat tangkap, yang basis
kegiatannya berada disekitar muara sungai yang dekat dengan pemukimannya dan
tempat pelelangan ikan (TPI). Berdasarkan pustaka dari website diskanlut jateng
mengenai profil pelabuhan perikanan pantai (PPP) Bajomulyo, Pati Jumlah alat
tangkap yang dioperasikan sebanyak 2.988 unit dengan jumlah armada penangkapan
ikan yang sebanyak Kapal Motor Sebanyak 594 unit dan Motor Tempel sebanyak
2.078. Usaha-usaha lain yang mendukung usaha penangkapan ikan antara lain (Basri,
Hasanudin. 1985) :
·
Docking = 1 unit,
·
Toko BAP = 8 unit;
·
Pabrik Es = 2 unit;
·
Bengkel Mesin = 20 unit;
·
SPBN = 3 unit;
·
Penyalur BBM = 3 unit,
·
Penyalur Es = 9 unit;
·
Penyalur Air Bersih ( PAB ) = 7
unit;
·
Penyalur Garam = 3 unit;
·
Toko Perbekalan = 31 unit dan
·
Usaha Pengolahan Ikan = 120 unit.
Berikut armada kapal perikanan yang
berbasis di PPP Bajomulyo, Pati.
C.
Profil
Responden
Kemajuan dan
perkembangan suatu desa dapat ditentukan seberapa besar tingkat produktivitas
masyarakatnya dalam menghasilkan barang maupun jasa. Tingkat produktivitas ini
sangat dipengaruhi oleh faktor usia. Dalam kajian sosial ekonomi usia produktif
adalah usia 15 – 64 tahun. Berikut grafik sebaran umur berdasarkan observasi
terhadap masyarakat nelayan tangkap desa Bajomulyo.
Dari grafik di atas,
menunjukkan hampir 100% masyarakat
nelayan di desa Bajomulyo ini berusia produktif sehingga hal ini sangat
mempunyai dampak positif terhadap kemakmuran desa Bajomulyo. Di lapangan wujud
kemakmuran ini tampak dengan munculnya usaha – usaha baru baik berbasis
perikanan maupun non-perikanan, berbasis perikanan seperti usaha pemindangan,
bandeng tanpa duri, dan lainnya , sementara berbasis non perikanan seperti
usaha toko bangunan yang merupakan milik Bapak Utomo salah satu juragan
sekaligus promotor kapal jaring cumi serta pembangunan fasilitas – fasilitas
umum lainnya.
Indikasi dari tingkat kemakmuran
juga dapat ditinjau dari sebaran tingkat pendidikan suatu desa dalam hal ini
desa Bajomulyo. Berikut grafik sebaran pendidikan berdasarkan observasi
terhadap masyarakat nelayan tangkap desa Bajomulyo.

Dari grafik di atas, menunjukkan
sebagian besar nelayan mempunyai pendidikan terakhir sekolah dasar (SD). Hal
ini menunjukkan bahwa dengan kondisi masyarakat yang sebagian besar hanya
berpendidikan terakhir SD akan tetapi tingkat kemakmuran mereka cukup tinggi.
Kondisi ini dilatarbelakangi oleh orang tua masyarakat nelayan yang dahulunya
miskin sehingga tidak mampu memberikan pendidikan yang lebih tinggi kepada
anaknya yang saat ini menjadi masyarakat nelayan. Namun demikian, kondisi
itulah yang menyebabkan masyarakat nelayan desa Bajomulyo ini sudah mulai
berkarya di dunia penangkapan sejak kecil. Dari potret ini dapat diambil suatu
pelajaran bahwa perikanan khususnya tangkap mampu maju dan berkembang bermula
dari orang – orang dengan tingkat pendidikan yang rendah. Hal ini dapat terjadi
karena seperti yan kita ketahui perikanan adalah subuah ilmu terapan dan
praktis sehingga seseorang semakin banyak melakukan terapan – terapan
berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya akan mampu menguasainya. Akan tetapi,
saat ini keberhasilan juga sangat ditentukan oleh pendidikan yang akan
memunculkan teknologi – teknologi baru karena saat ini di bidang mana pun tidak
dapat lepas dengan yang namanya teknologi.
Sebagian besar profesi
nelayan masyarakat desa Bajomulyo bersifat turun – temurun dari keluarga
sehingga tentunya profesi nelayan masyarakat sudah tertanam lama dari sejak
kecil. Berdasarkan observasi, sebaran profesi orang tua masyarakat nelayan desa
Bajomulyo diperoleh 50 responden diantaranya 38 nelayan, 8 petani, 1 buruh, 1
pembudi daya, 1 tukang kursi dan 1 profesi lainnya. Dari kondisi ini dapat
diketahui bahwa kegiatan perikanan tangkap di desa Bajomulyo ini sudah sangat
lama dan mengalami perkembangan serta kemajuan yang cukup pesat. Hal ini
dikarenakan tingkat pengalaman masyarakat terhadap perikanan tangkap sudah lama
tertanam. Berikut grafik sebaran lama pengalaman nelayan tangkap masyarakat
desa Bajomulyo.
|
|
 |
Alat tangkap yang
dioperasikan di desa Bajomulyo khususnya di pelabuhan perikanan pantai (PPP)
antara lain cantrang, purse seine, jaring cumi, dan bottom long line. Dari
keempat alat tangkap tersebut yang paling banyak digunakan adalah jaring cumi,
baru kemudian purse seine dan berikutnya cantrang. Dari keterangan Bapak Utomo
seorang juragan sekaligus promotor jaring cumi bahwa jaring cumi dinilai
merupakan alat tangkap baru dibandingkan alat tangkap yang lain yang diterapkan
di desa Bajomulyo ini meskipun praktiknya sudah beberapa tahun terakhir ini.
Beliau mengaku yang mempromosikan alat tangkap ini dari pengalamannya ketika
bekerja di Jakarta karena mengingat alat tangkap yang sudah ada dinilai kurang
menguntungkan. Beliau juga menambahkan dengan jaring cumi ini masyarakat dapat
melakukan trip yang labih lama hingga sampai 3 bulan karena dilengkapi dengan
alat pendingin freezer. Dari alat tangkap jaring cumi ini terbukti
masyarakat nelayan desa Bajomulyo menjadi lebih makmur. Berikut grafik sebaran
alat tangkap sebagian besar masyarakat nelayan desa Bajomulyo.
Banyaknya sarana dan
prasarana pendukung kegiatan perikanan tangkap di desa Bajomulyo meyebabkan
masyarakat sekitar menjadikan nelayan sebagai pekerjaan pokoknya. Dan dengan
perkembangan dan kemajuan usaha penankapan banyak dari nelayan yang menciptakan
usaha sampingan baik dalam bidang perikanan maupun non perikanan. Dari data
hasil observasi menunjukkan bahwa 92% nelayan
menjadikan profesinya sebagai profesi atau pekerjaan pokok dan hanya 26,67% nelayan yang menjadikan profesinya sebagai
sampingan. Berikut grafik sebaran pekerjaan masyarakat nelayan desa Bajomulyo.
D.
Kegiatan
Perikanan Tangkap
Kegiatan perikanan
tangkap selain di laut lepas juga dipusatkan pada tempat pelelangan ikan (TPI)
dan pelabuhan perikanan pantai (PPP) desa Bajomulyo. Usaha perikanan tangkap
merupakan sebuah usaha bidang perikanan yang membutuhkan modal usaha yang
paling besar dibandingkan dengan usaha perikanan lainnya. Selain terdapat biaya
modal juga terdapat biaya operasional dan biaya perawatan untuk komponen alat
tangkap. Oleh karena itu, biasanya biaya – biaya tersebut diperoleh adakalnya
dari iuran masing – masing anggota kelompok nelayan dan ada kalanya melalui
peminjaman bank. Dari observasi menunjukkan masyarakat nelayan lebih cenderung
meminjam ke pihak bank sebagai sumber modal meskipun ada sebagian yang kecil
nelayan yang sumber modalnya dari pribadi, juragan, orang tua, iuran/patungan,
dan dinas perikanan. Hal ini menunjukkan bahwa bank mempunyai peran penting
dalam kegiatan perikanan tangkap sehingga dalam hal ini sebenarnya merupakan
kesempatan bagi pihak pemerintah dalam mengatur jalannya ekonomi masyarakat
perikanan dengan sebaik - baiknya sehingga dapat menunjang ekonomi pemerintah.
Pada umumnya biaya
investasi alat tangkap jaring cumi lebih banyak dibandingkan dengan alat
tangkap purse seine dan cantrang. Sementara untuk biaya operasional dan
perawatan besarnya bersifat kondisional dipengaruhi lamannya trip/ melaut dan
kualitas komponen alat penangkapan. Dari hasil observasi diperoleh untuk biaya
investasi alat tangkap purse seine berkisar Rp 800.000.000,00 (delapan ratus
juta rupiah) hingga Rp 16.726.800.000,00 (enam belas milyar tujuh ratus dua
puluh enam juta delapan ratus ribu rupiah). Sementara untuk biaya investasi
alat tangkap jaring cumi berkisar Rp 353.375.000,00 (tiga ratus lima puluh tiga
tiga ratus tujuh puluh lima ribu rupiah) hingga Rp 16.705.125.000,00 (enam
belas milyar tujuh ratus lima juta seratus dua puluh lima ribu rupiah) dan
untuk alat tangkap cantrang berkisar Rp 1.023.500.000,00 (satu milyar dua puluh
tiga juta lima ratus ribu rupiah) hingga Rp 5.912.500.000,00 (lima milyar
sembilan ratus dua belas juta lima ratus ribu rupiah).
Biaya operasional biasanya
dipengaruhi oleh lamanya trip/melaut. Biasanya trip paling lama pada kapal
dengan alat tangkap jaring cumi karena dilengkapi dengan alat pendingin freezer
sehingga hasil tangkapannya dapat bertahan lebih lama sehingga jumlah
tangkapannya pun peling banyak dibandingkan dengan alat tangkap yang lain
seperti purse seine dan cantrang. Banyaknya hasil tangkapan tersebut sebagian
besar masyarakat nelayan dijual di TPI, akan tetapi juga ada sebagian nelayan
yang langsung menjualnya ke pedagang pengumpul atau tengkulak. Bagi nelayan
yang menjual hasil tangkapannya ke tengkulak dikarenakan tidak puas dan sabar
dengan sistem pembayaran apabila dijual di TPI maksudnya sistem pencairan
pembayaran di TPI cukup lama dapat mencapai 1 bulan uang hasil tangkapan dapat
dicairkan sementara pada tengkulak paling lama mendapat pembayaran hasil
tangkapan hingga 1 minggu.
Secara umum iklim di Laut Jawa sangat ditentukan oleh angin
muson yang diakibatkan oleh perbedaan temperatur di dua benua dan samudera. Di
laut Jawa ada tiga musim yang terjadi secara bergantian, yaitu musim barat,
musim timur dan musim pancaroba. Musim barat berlansung mulai bulan Desember
sampai Pebruari, angin akan bertiup dari arah barat laut sedangkan arusnya
bergerak ke arah timur. Pada wktu musim timur, yaitu mulai Juni sampai Agustus,
angin bertiup lebih teratur dari arah
tenggara dengan arah arus ke arah barat. Diantara kedua musim tersebut terjadi
musim pancaroba. Sebelum musim barat terjadi, berlangsung musim pancaroba akhir
tahun yang berlangsung bulan September sampai Nopember dan sebelum mengawali
musim pancaroba awal tahun yang berlangsung mulai bulan Maret sampai Mei (Ayodhyoa AU. 1981).
Pada waktu musim timur,
dimana angin bertiup lebih teratur kegiatan penangkapan ikan terlihat lebih aktif,
hal ini berkabalikan bila musim barat sednag berlangsung. Kondisi cuaca yang
kurang mendukung keselamatan berlayar membuat sebagian armada perikanan untuk
menghentikan kegiatannya, terutama kapal – kapal yang yang berukuran kecil
seperti kapal yang menggunakan alat tangkap pancing prawe. Bagi kapal – kapal
yang mempunyai ukuran besar, cuaca buruk tidak menjadi kendala yang sulit
diatasi , karena dengan ukuran kapal yang besar keselamatan kapal di laut dapat
lebih terjamin sehingga di saat musim barat berlangsung armada purse seine
masih tetap melakukan operasi. Fishing ground untuk kapal yang berukuran
kecil tidak begitu jauh dari pantai yaitu sekitar 1 mil jauhnya dari garis
pantai, hal ini disesuaikan dengan kemampuan perahunya itu sendiri (Kusnadi.
2002).
Alat tangkap yang
digunakan masyarakat nelayan Bajomulyo antara lain jaring cumi, jaring purse
seine dan cantrang. Dari ketiga alat tangkap tersebut yang paling dominan
adalah jaring cumi dan purse seine.
Jaring purse seine
tergolong alat tangkap baru yang dioperasikan oleh nelayan – nelayan Juwana.
Alat ini mulai dikenal sejak kapal purse seine bisa masuk lokasi PPI Bajomulyo,
yaitu sejak mulai diadakan pengerukan muara sungai pada tahun 1984. Panjang
jaringnya berkisar 400 – 500 meter dengan ukuran dalam antara 60 – 80 meter.
Tangkapan utama purse seine adalah ikan – ikan pelagis yang mempunayi nilai ekonomis
tinggi, antara lain ikan layang (Decapterus sp.), kembung (Rastrelliger
sp.), dan lemuru (Sardinella longiceps). Jaring purse seine selain
merupakan penyumbang produksi hasil tangkapan terbesar di PPI Bajomulyo juga
merupakan pemberi lapangan kerja terbesar , karena dalam setiap kali operasi
membutuhkan ABK yang cukup banyak yaitu antara 35 – 60 orang per kapal (Ayodhyoa AU. 1981).
Jaring cumi termasuk dalam alat tangkap lift net yang
dioperasikan dengan cara dinaikkan atau ditarik ke atas dari posisi horizontal
kolom perairan untuk menangkap ikan yang ada di atasnya dengan menyaring air. Kapal
jaring cumi biasanya dioperasikan mulai menjelang malam hari hingga pagi hari
berkisar antara pukul 17:00 sampai 5:00. Lampu-lampu mulai dinyalakan setelah
matahari mulai terbenam, yaitu sekitar pukul 17:00. Alat tangkap jaring cumi
memiliki lampu yang dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu lampu penarik atau
pengumpul ikan, lampu pengarah ikan dan lampu pencari ikan. Jenis lampu penarik
ikan adalah lampu galaxy 500 watt sebanyak 18 buah, sedangkan lampu pencari
ikan yang digunakan adalah lampu mercury sebanyak 2 buah dan lampu pengarah
ikan adalah lampu halogen 1000 watt sebanyak 4 buah. Spesifikasi alat tangkap
jaring cumi dengan ukuran P = 12 m; L = 18 m; T = 5 m dengan bahan jaring
Polyethylene ( MS : 3 cm ) (Barus HR,
Badruddin, Naamin N. 1991).
E.
Permasalahan
Berdasarkan hasil
wawancara dengan beberapa responden terkait permasalahan dalam perikanan
tangkap khususnya di desa Bajomulyo dapat dipahami bahwa ada dua permasalahan
mendasar yaitu kondisi alam dan birokrasi perikanan tangkap. Kondisi alam yang
tidak menentu dan ekstrim seperti gelombang besar, angin kencang dan lainnya
menyebabkan sebagian besar nelayan tidak berani atau enggan melaut. Kondisi
alam yang seperti ini juga menyebabkan sulitnya nelayan mendapatkan hasil
tangkapan di daerah penangkapannya dan terkadang harus pergi berpindah
melakukan penangkapan hingga ke pulau lain. Adapun terkait birokrasi mengenai
izin pengadaan kapal beserta komponennya dan perizinan untuk melakukan trip
masih dianggap sebagian besar nelayan terlalu ribet dan bahkan saat ini lebih
susah dari pada sebelumya.
Selain kedua masalah
yang mendasar di atas terdapat masalah lain yang juga penting seperti adanya
pungutan liar di laut oleh oknum petugas pemerintah tertentu dengan dalih
mencari – cari kesalahan nelayan dan mereka – reka sanksi. Selain itu,
peraturan yang tidak tegas mengenai jenis dan ukuran alat tangkap dan daerah
penangkapan yang belum jelas.
Berdasarkan analisis
LSI mengenai pendapat/perasaan responden sebagai masyarakat nelayan secara
keseluruhan tampak masyarakat nelayan desa Bajomulyo tetap optimis akan
nasibnya yang akan lebih baik kedepannya tentunya dengan semangat kerja secara
bersama – sama dengan kelompok nelayan yang ada maka suatu harapan yang baik tentunya akan dapat diraih.
Selain itu, tampak dari grafik LSI B menunjukkan bahwa sebagian besar nelayan
bahagia dalam kondisi bekerja dalam tim dan menikmati akan kesibukannya sebagai
seorang nelayan.
VI.
KESIMPULAN DAN SARAN
a.
Kesimpulan
·
Sebagian
besar aktivitas perekonomian masyarakat di pesisir kecamatan Juwana tepatnya di
desa Bajomulyo 92% berprofesi pokok
sebagai nelayan.
·
Sebagian
besar masyarakat nelayan menggunakan armada dengan alat tangkap jaring cumi dan
purse seine.
·
Permasalahan
mendasar dalam kegiatan perikanan tangkap adalah kondisi alam dan sistem
birokrasi (perizinan pengadaan armada dan komponennya dan perizinan melaut)
perikanan tangkap.
·
Kegiatan
perikanan tangkap di desa Bajomulyo, Juwana dari tahun ke tahun terus mengalami
peningkatan terbukti jumlah masyarakat nelayan yang setiap tahun bertambah
sehingga dapat dikatakan bahwa kegiatan perikanan di desa Bajomulyo ini cukup
berhasil dalam membantu perekonomian daerah.
b.
Saran
·
Hendaknya
pemerintah daerah maupun provinsi dapat melakukan tindakan tegas terhadap oknum
yang sering mengadakan pungutan liar terhadap nelayan saat melaut.
·
Hendaknya
pemerintah melakukan pembenahan sistem birokrasi yang telah ada karena hal ini
sangat dinilai sebagian besar nelayan sebagai kendala yang cukup serius.
·
Untuk
menjaga keamanan agar nelayan lebih memperhatikan dan mencari kejelasan
informasi mengenai batas wilayah daerah penangkapan.
VII.
DAFTAR PUSTAKA
Ayodhyoa AU.
1981. Metode Penangkapan Ikan. Bogor: Yayasan Dewi Sri.
97
hlm.
Barus
HR, Badruddin, Naamin N. 1991. Prosiding Forum II Perikanan; Sukabumi
18-21 Juni 1991. Jakarta:
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan.
Badan Penelitian dan Pengembangan Perikanan Departemen
Pertanian. hlm
91-105.
Basri, Hasanudin. 1985. “Beberapa Hal Mengenai Strukktur Ekonomi Masyarakat
Pantai”, dalam A.S. Achmad dan S.S.Acip (ed.) Komuikasi dan Pembangunan. Sinar
Harapan. Jakarta
Dahuri, R.
2005. Revitalisasi Koperasi Perikanan. Th XX, No 26
http://diskanlut-jateng.go.id/microsite/ppp-bajomulyo/profil
Kusnadi. 2002. Konflik Sosial Nelayan: Kemiskinan dan Perebutan Sumberdaya
Pesisir. LkiS . Yogyakarta
Republika, 22 Juni 1993 dan Zurkamain Sumbing, “Pengembangan Wilayah Pantai
Terpadu dalam Rangka Pembangunan Daerah”, dalam Prosiding V Ekosistem Mangrove,
Jakarta. Panitia Program MAB LIPI,1995
Sudarso. 2007.” Tekanan Kemiskinan Struktural Nelayan Tradisional di
Perkotaan” Masyarakat, Kebudayaan dan Politik. Th XX, No 2. Universitas
Airlangga . Surabaya