Kamis, 26 September 2013

Studi Lapangan Perikanan Desa Bajomulyo, Juwana, Pati, Jateng

  I.                        JUDUL
Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Nelayan Desa Bajomulyo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah
           II.                        PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas lautan meliputi 2/3 luas keseluruhan wilayahnya dan memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Kondisi ini menyebabkan Indonesia memiliki potensi kelautan dan biodiversity (keanekaragaman hayati) yang sangat tinggi. Kekayaan laut yang sangat besar ini menuntut penggunaan berbagai macam alat tangkap dan memanfaatkannya. Namun, dengan kekayaan laut yang demikian basarnya bersebrangan dengan potret sebagian besar khalayak yang menganggap para nelayan masih hidup di bawah garis kemiskinan (Basri, Hasanudin. 1985).
Juwana adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kota Juwana terletak di jalur pantura yang menghubungkan kota Pati dan kota Rembang. Kecamatan ini mempunyai banyak lapangan kerja. Hal yang menjadi ciri khas Kecamatan Juwana adalah usaha kerajinan logam kuningan yang sebagian besar terdapat di Desa Growong Lor dan sekitarnya, serta usaha tambak perikanan di Desa Bajomulya, Agung Mulyo dan desa-desa sekitarnya. Pelabuhan Juwana menjadi salah satu tulang punggung kekuatan perekonomian kecamatan Juwana. Pelabuhan ini menjadi salah satu pintu masuk kapal-kapal pengangkut kayu dari Kalimantan (sekarang sudah tidak aktif). Hasil tambak maupun tangkapan nelayan yang didapat antara lain: bandeng, udang, tongkol, kakap merah, kepiting, ikan pe, cumi, dan kerapu (Sudarso. 2007).
Kondisi perikanan Juwana khususnya di Desa Bajomulyo yang demikian terpapar di atas akan menjadi suatu penelitian dan pembahasan yang menarik kaitannya dengan potret masyarakat terhadap pola hidup nelayan atau bagaimana aspek kehidupan sosial ekonomi nelayan sehingga bagaimana pula pengaruhnya kegiatan perikanan masyarakat Juwana terhadap perekonomian daerah. 


B.     Tujuan
1.         Mendapat informasi seputar aktivitas perekonomian masyarakat perikanan di desa Bajomulyo, Pati, Jawa Tengah.
2.         Mengembangkan wawasan mahasiswa dalam bidang sosial ekonomi perikanan.

C.     Manfaat
1.         Dapat mengetahui secara langsung bagaimana kegiatan sosial ekonomi masyarakat perikanan di Desa Bajomulyo  khususnya dalam sektor penangkapan.
2.         Dapat mengetahui bagaimana kondisi perikanan tangkap berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat perikanan di daerah Pati.



















      III.                        TINJAUAN  PUSTAKA
A.    Kondisi Umum Bajomulyo
Bajomulyo adalah desa di kecamatan Juwana, Pati, Jawa Tengah, Indonesia.
Desa ini terletak arah tenggara pusat kota kecamatan. Letaknya yang tepat di tepi Sungai Juwana yang juga menjadi pelabuhan dan Tempat Pelelangan Ikan menjadikan desa ini identik dengan sebutan "kampung nelayan". Tapi di desa Bajomulyo ini, keadaanya berbeda dengan desa-desa nelayan pada umumnya di Indonesia. Di desa ini nelayan hidup dengan makmur dan sejahtera, bahkan kehidupan mereka rata-rata masuk dalam kalangan menengah ke atas dan penyumbang pendapatan daerah terbesar di Kabupaten Pati adalah Kecamatan Juwana, dan desa Bajomulyo memiliki andil besar atas itu. Oleh karena itu, sebagian besar penduduk desa Bajomulyo bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani tambak baik tambak udang windu, bandeng maupun petani garam. Namun karena dekatnya dengan pusat kota tidak sedikit pula yang berprofesi di bidang niaga dan jasa (Republika, 1993).
     Desa Bajomulyo merupakan salah satu desa dari 29 desa yang berada di Kecamatan Juwana memiliki wilayah seluas 74.800 Ha. Desa Bajomulyo yang lokasinya berdekatan dengan pantai laut utara Jawa ini secara geografis terletak di posisi 06° 42’ Lintang Selatan dan 111° 09’ Bujur Timur. Bentuk permukaan tanahnya mulai dari datar sampai berombak dengan ketinggian rata – rata dari permukaan laut sebesar 5,8 m. Di desa Bajomulyo tidak terdapat sawah atau kebun yang dapat menghasilkan, karena jenis tanahnya yang kurang cocok untuk digunakan bertani. Tanah yang kondisinya kering dan cukup dekat dengan pantai ini, oleh penduduk setempat untuk keperluan tambak udang dan bandeng. Berikut tabel penggunaan tanah di Desa Bajomulyo beserta luas lahannya (Sudarso. 2007).


 








B.     Kegiatan Penangkapan
       Sejak diadakan pengerukan muara sungai pada tahun 1984, semakin banyak kapal yang membongkar hasil tangkapannya di PPI Bajomulyo untuk dilelang. Hasil pengerukan ini menjadikan alur pelayaran menjadi cukup dalam sehingga dapat dilalui oleh kapal – kapal besar yang memiliki draft kapal yang cukup dalam. Sebelumnya hanya kapal – kapal/perahu dengan ukuran kecil sampai sedang saja yang dapat keluar masuk ke PPI bajomulyo. Kapal/perahu yang berada di PPI Bajomulyo seluruhnya telah menggunakan motor mesin sebagai alat penggeraknya. Penggolongannya dibagi menjadi dua, yaitu kapal motor dan perahu motor tempel. Kapal motor dibagi lagi menjadi tiga kelompok yang berlainan tonasenya, yaitu kapal dengan ukuran tonase (100-125 GT), (10-20 GT), dan (6-7,5 GT) ((diskanlut-jateng.go.id).
Kapal dengan ukuran 6-7,5 GT adalah kapal yang paling banyak dimiliki oleh nelayan bajomulyo. Kapal ini biasa dioperasikan untuk alat tangkap pancing prawe, alat tangkap yang menjadi favorit nelayan – nelayan di PPI bajomulyo karena selain memang hasil tangkapannya memberikan penghasilan yang cukup besar untuk tiap kali tripnya, juga harga per unit penangkapannya yang masih terjangkau. Uang dari hasil lelangnya dapat dengan cepat menutup modal yang dikeluarkan sehingga hal ini merangsang para nelayan untuk menambah armadanya kembali (Republika, 1993).
Perahu motor tempel akhir – akhir ini sejak mulai ramainya diperkenalkan kapal purse seine dan kapal pancing prawe, aktivitas keberadaanya sudah mulai tergeser. Mereka dioperasikan hanya pada saat musim ikan tertentu karena perahu jenis ini dilengkapi alat tangkap yang mengikuti keadaan musim ikan yang sedang berlangsung. Hal ini berarti operasi penangkapannya tidak berlangsung sepanjang tahun seperti yang dilakukan oleh kapal – kapal purse seine dan pancing prawe. Mereka akan beristirahat kembali bila musim ikannya telah selesai. Dahulu sebelum ada kapal purse seine perahu dari jenis inilah yang mendominasi armada penangkapan di PPI Bajomulyo. Alat penggeraknya pun waktu itu ada yang masih menggunakan layar dan operasi penangkapannya tidak jauh dari pantai, yaitu paling jauh sampai 1 mil (Republika, 1993).
Nelayan yang ada di PPI Bajomulyo selain berasal dari penduduk setempat juga banyak yang berasal dari luar Juwana. Nelayan – nelayan kapal purse seine  yang jumlah kapalnya lebih banyak daripada jumlah kapal nelayan setempat, kebanyakan berasal dari Pekalongan. Sebagian lagi ada yang berasal dari Tegal dan Batang. Umumnya nelayan – nelayan yang datang ke PPI Bajomulyo adalah nelayan yang menggunakan kapal dengan ukuran cukup besar, seperti kapal purse seine. Nelayan – nelayan Banyuwangi datang ke PPI Bajomulyo dengan kapal yang berukuran antara 10-20 GT, kapalnya dilengkapi dengan alat tangkap jaring nilon yang biasa digunakan untuk menangkap ikan tongkol. Ada juga nelayan – nelayan yang dipanggil oleh juragan pemilik kapal untuk mengoperasikan kpalnya, seperti yang banyak dilakukan pada kapal – kapal dengan alat tangkap pancing prawe. Nelayan – nelayan ini biasanya didatangkan dari Batang, Demak dan Rembang (Republika, 1993).
Wilayah perairan yang bisa dijadikan daerah penangkapan oleh kapal – kapal yang mendaratkan ikannya di PPI Bajomulyo adalah wilayah perairan Laut Jawa dan sebagian perairan Laut Cina Selatan. Tiap jenis kapal biasanya daerah penangkapannya berbeda. Kapal – kapal purse seine yang mempunyai nilai GT yang besar biasa menangkap ikan sampai ke perairan Laut Cina Selatan (diskanlut-jateng.go.id).
















     IV.                 METODE
A.    Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum lapangan ini dilakukan pada tanggal 1-2 Juni 2013 di Desa Bakaran dan Desa Bajomulyo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati  Provinsi Jawa Tengah.
B.     Metode Dasar
Metode kajian adalah metode survei dan observasi lapangan. Menurut Singarimbun dan Effendi (1995) penelitian survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok. Proses pengumpulan data dilakukan melalui interaksi secara langsung dengan responden. Penelitian survei dapat digunakan untuk eksplorasi, deskriptif, maupun penjelasan dan prediksi atau meramalkan kejadian tertentu di masa yang akan datang.
C.     Metode Penentuan Sampel/Responden
Populasi yang menjadi pusat kajian praktikum ini adalah nelayan, pembudidaya ikan, dan pengolah ikan. Pemilihan sampel menggunakan metode snowball sampling. Menurut Somekh dan Lewin (2005) metode snowball sampling merupakan metode pemilihan responden dengan pemilihan sejumlah kecil dari populasi dengan karakteristik tertentu, yang selanjutnya dijadikan responden, yang diminta untuk memberikan rekomendasi untuk responden berikutnya. Teknik ini menggunakan satu orang utama sebagai informan kunci yang akan terus bergulir menuju informan berikutnya hingga kualitas data yang diharapkan dapat terpenuhi (Idrus, 2009). Dalam hal ini praktikan dapat mendatangi tetua atau ketua kelompok atau petugas pemerintahan yang menjadi tokoh kunci di desa pada masing – masing kegiatan, yang dapat dianggap sebagai informan pertama (responden pertama) untuk mengawali teknik snowball. Informan pertama diharapkan memberi rekomendasi calon informan selanjutnya, sampai jumlah responden yang ditentukan diketahui.
D.    Teknik Pengumpulan Data
1.      Kuesioner
Metode ini biasa digunakan untuk menyelidiki pendapat orang dan sikap. Metode angket adalah suatu metode penelitian yang berupa daftar pertanyaan untuk memperoleh data berupa jawaban – jawaban dari responden. Kuesioner pada praktikum ini digunakan untuk memperoleh informasi dari sejumlah pelaku usaha perikanan yaitu untuk bidang penangkapan, budidaya dan pengolahan.
2.      Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah pengumpulaan data dengan cara melihat dan memperhatikan serta mengolah dokumen – dokumen yakni melalui arsip – arsip surat serta catatan – catatan dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan atas kebenarannya. Metode dokumentasi pada praktikum ini sebagai sumber untuk mendapatkan informasi atau data administrasi dari kegiatan usaha perikanan yang dilakukan oleh responden.
3.      Metode Wawancara
Metode wawancara adalah dialog yang dilaksanakan oleh pewawancara (praktikan) untuk memperoleh informasi dari responden yang fungsinya untuk meneliti atau menilai keberadaan seseorang, misalnya untuk memperoleh data tentang latar belakang pendidikan orang tua, serta sikapnya terhadap sesuatu.
4.      Metode Observasi
Metode observasi adalah pencatatan dan pengamatan fenomena – fenomena yang diselidiki secara sistematik. Metode observasi adalah metode pengumpulan data dengan jalan mengamati, meneliti, dan mengukur kejadian atau peristiwa yang sedang berlangsung (Kusmayadi, 2000).
E.     Tabulasi dan Analisis Data
Tabulasi data dilakukan dengan menggunakan program MS. Excel. Data yang telah didapatkan akan ditabulasikan untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi sosial ekonomi dari para pelaku usaha perikanan (responden) yang telah diwawancarai sebelumnya. Berdasarkan hasil tabulasi data selanjutnya dianalisis secara deskriptif. 





       V.                 HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Keadaan Umum
Secara geografis desa Bajomulyo Juwana kabupaten Pati merupakan tipologi daerah pantai/pesisir dan sekaligus menjadi bagian tidak terpisahkan dengan eksistensi daerah pesisir. Desa ini memiliki batas – batas wilayah dengan desa – desa tetangganya adalah sebagai berikut (diskanlut-jateng.go.id) :
·         Sebelah utara berbatasan dengan Desa Babakan Wetan,
·         Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kudu Keras,
·         Sebelah barat berbatasan dengan Desa Growong Lor,
·         Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Bendar.
Desa Bajomulyo dengan tipologi daerah pantai/pesisir sebagian besar masyarakatnya adalah nelayan. Hal ini pun juga diakui oleh Bu Tarso, istri salah satu juragan kapal jaring cumi yang sempat diwawancarai. Beliau memberikan informasi bahwa memang desa Bajomulyo ini adalah desa nelayan, beliau juga menambahkan bahwa juga ada desa yang sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai guru dan juga desa yang sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai buruh. Dari Pernyataan Bu Tarso ini dapat menganalisa dan menduga bahwa di kecamatan Juwana ini nampak desa – desa khusus dengan masyarakat berprofesi tertentu seperti desa nelayan, desa buruh, desa petani, atau desa guru. Informasi ini menunjukkan persebaran profesi desa Bajomulyo saat ini  tidak sama dengan sebelumnya yakni pada tahun 1992. Berdasarkan data yang ada pada tahun 1992 mata pencaharian penduduk desa Bajomulyo sebagian besar adalah buruh dan nelayan. Jumlah persentase nelayan hanya mencapai 19% dari seluruh jumlah angkatan kerja. Angka ini bukan jumlah terbesar, karena angkatan kerja yang lain tersebar di sektor lainnya. Berikut persebaran mata pencaharian masyarakat desa Bajomulyo pada tahun 1992.







B.     Sarana dan Prasarana
       Pengertian sarana di sini adalah fasilitas fisik yang dibangun untuk melakukan berbagai aktivitas sehari – hari, seperti gedung sekolah, kantor, tempat beribadah dan sebagainya. Sedangkan prasarananya adalah berupa lahan tempat sarana tersebut dibangun. Fasilitas untuk menunjang kelancaran transportasi dari dan menuju ke wialayah desa Bajomulyo telah dibangun, yaitu berupa jalan yang sudah beraspal maupun yang belum diaspal. Jalan dusun yang panjangnya ± 7 km dan lebar 4 meter menghubungkan wilayah – wilayah di desa Bajomulyo dengan desa – desa tetangganya. Jalan ini sebagian besar sudah beraspal akan tetapi tampak beberapa sudah mulai rusak.Sarana yang merupakan faktor utama pendukung kegiatan perikanan di desa Bajomulyo adalah pelabuhan perikanan pantai (PPP) (diskanlut-jateng.go.id).
       Pelabuhan Perikanan adalah merupakan fasilitas pelayanan umum yang pembangunan dan pembinaannya menjadi kewajiban Pemerintah. Batasan tersebut pengertiannya dapat diperluas menjadi Pelabuhan Perikanan maupun pangkalan pendaratan ikan adalah tempat bertambat dan berlabuh perahu/kapal perikanan, tempat mendaratkan hasil perikanan, yang kesemuanya itu merupakan suatu lingkungan kerja kegiatan ekonomi perikanan yang meliputi areal perairan dan daratan dalam rangka memberikan pelayanan umum dan jasa untuk memperlancar kegiatan berproduksi perahu/kapal dan usaha perikanan. Oleh karena itu pelabuhan perikanan/pangkalan pendaratan ikan mempunyai fungsi (diskanlut-jateng.go.id) :
·         Pusat pengembangan masyarakat nelayan.
·         Tempat berlabuh perahu/kapal perikanan.
·         Tempat pendaratan ikan hasil tangkapan.
·         Tempat untuk memperlancar kegiatan perahu/kapal perikanan.
·         Pusat penanganan dan pengolahan hasil perikanan.
·         Pusat pemasaran dan distribusi ikan hasil tangkapan.
·         Pusat pelaksanaan pembinaan mutu hasil perikanan.
·         Pusat pelaksanaan penyuluhan dan pengumpulan data perikanan.
·         Pusat pengawasan penangkapan dan pengendalian pemanfaatan sumber daya ikan.

Mengingat pelabuhan perikanan sebagai pusat kegiatan ekonomi perikanan dan tempat berlabuhnya kapal/perahu perikanan maka di pelabuhan perikanan/pangkalan pendaratan ikan ini dapat dilaksanakan sosialisasi berbagai kebijakan maupun peraturan-peraturan yang berlaku berkaitan dengan kegiatan ekonomi perikanan serta pengawasan dan pengendalian pemanfaatan sumberdaya perikanan. Demikian halnya dengan PPP (Pelabuhan Perikanan Pantai) Bajomulyo Juwana sebagai Pelabuhan Type C yakni pelabuhan perikanan yang skala layanannya sekurang-kurangnya mencakup kegiatan usaha perikanan di wilayah perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial dan zona ekonomi eksklusif indonesia.
Sebagaimana wilayah pantai utara pada umumnya, maka daerah kerja PPP Bajomulyo Pati mempunyai konfigurasi pantai yang landai, kondisi perairan dengan ombak yang tidak begitu besar, serta didukung oleh adanya sungai-sungai. Kondisi ini merupakan faktor utama dalam mengembangkan kegiatan usaha penangkapan ikan secara bertahap, yaitu usaha penangkapan ikan yang dimulai dengan menggunakan kapal ukuran kecil, kemudian bagi nelayan yang mampu dapat meningkatkan secara bertahap menjadi usaha penangkapan ikan dengan menggunakan kapal berukuran besar, dengan berbagai jenis alat tangkap, yang basis kegiatannya berada disekitar muara sungai yang dekat dengan pemukimannya dan tempat pelelangan ikan (TPI). Berdasarkan pustaka dari website diskanlut jateng mengenai profil pelabuhan perikanan pantai (PPP) Bajomulyo, Pati Jumlah alat tangkap yang dioperasikan sebanyak 2.988 unit dengan jumlah armada penangkapan ikan yang sebanyak Kapal Motor Sebanyak 594 unit dan Motor Tempel sebanyak 2.078. Usaha-usaha lain yang mendukung usaha penangkapan ikan antara lain (Basri, Hasanudin. 1985) :
·                      Docking = 1 unit,
·                      Toko BAP = 8 unit;
·                      Pabrik Es = 2 unit;
·                      Bengkel Mesin = 20 unit;
·                      SPBN = 3 unit;
·                      Penyalur BBM = 3 unit,
·                      Penyalur Es = 9 unit;
·                      Penyalur Air Bersih ( PAB ) = 7 unit;
·                      Penyalur Garam = 3 unit;
·                      Toko Perbekalan = 31 unit dan
·                      Usaha Pengolahan Ikan = 120 unit.
Description: http://diskanlut-jateng.go.id/microsite/images/image/bajomulyo/bj03.jpgBerikut armada kapal perikanan yang berbasis di PPP Bajomulyo, Pati.





C.     Profil Responden
       Kemajuan dan perkembangan suatu desa dapat ditentukan seberapa besar tingkat produktivitas masyarakatnya dalam menghasilkan barang maupun jasa. Tingkat produktivitas ini sangat dipengaruhi oleh faktor usia. Dalam kajian sosial ekonomi usia produktif adalah usia 15 – 64 tahun. Berikut grafik sebaran umur berdasarkan observasi terhadap masyarakat nelayan tangkap desa Bajomulyo.
      
       Dari grafik di atas, menunjukkan hampir 100%  masyarakat nelayan di desa Bajomulyo ini berusia produktif sehingga hal ini sangat mempunyai dampak positif terhadap kemakmuran desa Bajomulyo. Di lapangan wujud kemakmuran ini tampak dengan munculnya usaha – usaha baru baik berbasis perikanan maupun non-perikanan, berbasis perikanan seperti usaha pemindangan, bandeng tanpa duri, dan lainnya , sementara berbasis non perikanan seperti usaha toko bangunan yang merupakan milik Bapak Utomo salah satu juragan sekaligus promotor kapal jaring cumi serta pembangunan fasilitas – fasilitas umum lainnya.
       Indikasi dari tingkat kemakmuran juga dapat ditinjau dari sebaran tingkat pendidikan suatu desa dalam hal ini desa Bajomulyo. Berikut grafik sebaran pendidikan berdasarkan observasi terhadap masyarakat nelayan tangkap desa Bajomulyo.
       Dari grafik di atas, menunjukkan sebagian besar nelayan mempunyai pendidikan terakhir sekolah dasar (SD). Hal ini menunjukkan bahwa dengan kondisi masyarakat yang sebagian besar hanya berpendidikan terakhir SD akan tetapi tingkat kemakmuran mereka cukup tinggi. Kondisi ini dilatarbelakangi oleh orang tua masyarakat nelayan yang dahulunya miskin sehingga tidak mampu memberikan pendidikan yang lebih tinggi kepada anaknya yang saat ini menjadi masyarakat nelayan. Namun demikian, kondisi itulah yang menyebabkan masyarakat nelayan desa Bajomulyo ini sudah mulai berkarya di dunia penangkapan sejak kecil. Dari potret ini dapat diambil suatu pelajaran bahwa perikanan khususnya tangkap mampu maju dan berkembang bermula dari orang – orang dengan tingkat pendidikan yang rendah. Hal ini dapat terjadi karena seperti yan kita ketahui perikanan adalah subuah ilmu terapan dan praktis sehingga seseorang semakin banyak melakukan terapan – terapan berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya akan mampu menguasainya. Akan tetapi, saat ini keberhasilan juga sangat ditentukan oleh pendidikan yang akan memunculkan teknologi – teknologi baru karena saat ini di bidang mana pun tidak dapat lepas dengan yang namanya teknologi.
       Sebagian besar profesi nelayan masyarakat desa Bajomulyo bersifat turun – temurun dari keluarga sehingga tentunya profesi nelayan masyarakat sudah tertanam lama dari sejak kecil. Berdasarkan observasi, sebaran profesi orang tua masyarakat nelayan desa Bajomulyo diperoleh 50 responden diantaranya 38 nelayan, 8 petani, 1 buruh, 1 pembudi daya, 1 tukang kursi dan 1 profesi lainnya. Dari kondisi ini dapat diketahui bahwa kegiatan perikanan tangkap di desa Bajomulyo ini sudah sangat lama dan mengalami perkembangan serta kemajuan yang cukup pesat. Hal ini dikarenakan tingkat pengalaman masyarakat terhadap perikanan tangkap sudah lama tertanam. Berikut grafik sebaran lama pengalaman nelayan tangkap masyarakat desa Bajomulyo.


 









      

       Alat tangkap yang dioperasikan di desa Bajomulyo khususnya di pelabuhan perikanan pantai (PPP) antara lain cantrang, purse seine, jaring cumi, dan bottom long line. Dari keempat alat tangkap tersebut yang paling banyak digunakan adalah jaring cumi, baru kemudian purse seine dan berikutnya cantrang. Dari keterangan Bapak Utomo seorang juragan sekaligus promotor jaring cumi bahwa jaring cumi dinilai merupakan alat tangkap baru dibandingkan alat tangkap yang lain yang diterapkan di desa Bajomulyo ini meskipun praktiknya sudah beberapa tahun terakhir ini. Beliau mengaku yang mempromosikan alat tangkap ini dari pengalamannya ketika bekerja di Jakarta karena mengingat alat tangkap yang sudah ada dinilai kurang menguntungkan. Beliau juga menambahkan dengan jaring cumi ini masyarakat dapat melakukan trip yang labih lama hingga sampai 3 bulan karena dilengkapi dengan alat pendingin freezer. Dari alat tangkap jaring cumi ini terbukti masyarakat nelayan desa Bajomulyo menjadi lebih makmur. Berikut grafik sebaran alat tangkap sebagian besar masyarakat nelayan desa Bajomulyo.

 








       Banyaknya sarana dan prasarana pendukung kegiatan perikanan tangkap di desa Bajomulyo meyebabkan masyarakat sekitar menjadikan nelayan sebagai pekerjaan pokoknya. Dan dengan perkembangan dan kemajuan usaha penankapan banyak dari nelayan yang menciptakan usaha sampingan baik dalam bidang perikanan maupun non perikanan. Dari data hasil observasi menunjukkan bahwa 92%  nelayan menjadikan profesinya sebagai profesi atau pekerjaan pokok dan hanya 26,67%  nelayan yang menjadikan profesinya sebagai sampingan. Berikut grafik sebaran pekerjaan masyarakat nelayan desa Bajomulyo.


 










D.    Kegiatan Perikanan Tangkap
       Kegiatan perikanan tangkap selain di laut lepas juga dipusatkan pada tempat pelelangan ikan (TPI) dan pelabuhan perikanan pantai (PPP) desa Bajomulyo. Usaha perikanan tangkap merupakan sebuah usaha bidang perikanan yang membutuhkan modal usaha yang paling besar dibandingkan dengan usaha perikanan lainnya. Selain terdapat biaya modal juga terdapat biaya operasional dan biaya perawatan untuk komponen alat tangkap. Oleh karena itu, biasanya biaya – biaya tersebut diperoleh adakalnya dari iuran masing – masing anggota kelompok nelayan dan ada kalanya melalui peminjaman bank. Dari observasi menunjukkan masyarakat nelayan lebih cenderung meminjam ke pihak bank sebagai sumber modal meskipun ada sebagian yang kecil nelayan yang sumber modalnya dari pribadi, juragan, orang tua, iuran/patungan, dan dinas perikanan. Hal ini menunjukkan bahwa bank mempunyai peran penting dalam kegiatan perikanan tangkap sehingga dalam hal ini sebenarnya merupakan kesempatan bagi pihak pemerintah dalam mengatur jalannya ekonomi masyarakat perikanan dengan sebaik - baiknya sehingga dapat menunjang ekonomi pemerintah.
       Pada umumnya biaya investasi alat tangkap jaring cumi lebih banyak dibandingkan dengan alat tangkap purse seine dan cantrang. Sementara untuk biaya operasional dan perawatan besarnya bersifat kondisional dipengaruhi lamannya trip/ melaut dan kualitas komponen alat penangkapan. Dari hasil observasi diperoleh untuk biaya investasi alat tangkap purse seine berkisar Rp 800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah) hingga Rp 16.726.800.000,00 (enam belas milyar tujuh ratus dua puluh enam juta delapan ratus ribu rupiah). Sementara untuk biaya investasi alat tangkap jaring cumi berkisar Rp 353.375.000,00 (tiga ratus lima puluh tiga tiga ratus tujuh puluh lima ribu rupiah) hingga Rp 16.705.125.000,00 (enam belas milyar tujuh ratus lima juta seratus dua puluh lima ribu rupiah) dan untuk alat tangkap cantrang berkisar Rp 1.023.500.000,00 (satu milyar dua puluh tiga juta lima ratus ribu rupiah) hingga Rp 5.912.500.000,00 (lima milyar sembilan ratus dua belas juta lima ratus ribu rupiah).
       Biaya operasional biasanya dipengaruhi oleh lamanya trip/melaut. Biasanya trip paling lama pada kapal dengan alat tangkap jaring cumi karena dilengkapi dengan alat pendingin freezer sehingga hasil tangkapannya dapat bertahan lebih lama sehingga jumlah tangkapannya pun peling banyak dibandingkan dengan alat tangkap yang lain seperti purse seine dan cantrang. Banyaknya hasil tangkapan tersebut sebagian besar masyarakat nelayan dijual di TPI, akan tetapi juga ada sebagian nelayan yang langsung menjualnya ke pedagang pengumpul atau tengkulak. Bagi nelayan yang menjual hasil tangkapannya ke tengkulak dikarenakan tidak puas dan sabar dengan sistem pembayaran apabila dijual di TPI maksudnya sistem pencairan pembayaran di TPI cukup lama dapat mencapai 1 bulan uang hasil tangkapan dapat dicairkan sementara pada tengkulak paling lama mendapat pembayaran hasil tangkapan hingga 1 minggu.
       Secara umum iklim di Laut Jawa sangat ditentukan oleh angin muson yang diakibatkan oleh perbedaan temperatur di dua benua dan samudera. Di laut Jawa ada tiga musim yang terjadi secara bergantian, yaitu musim barat, musim timur dan musim pancaroba. Musim barat berlansung mulai bulan Desember sampai Pebruari, angin akan bertiup dari arah barat laut sedangkan arusnya bergerak ke arah timur. Pada wktu musim timur, yaitu mulai Juni sampai Agustus, angin bertiup  lebih teratur dari arah tenggara dengan arah arus ke arah barat. Diantara kedua musim tersebut terjadi musim pancaroba. Sebelum musim barat terjadi, berlangsung musim pancaroba akhir tahun yang berlangsung bulan September sampai Nopember dan sebelum mengawali musim pancaroba awal tahun yang berlangsung mulai bulan Maret sampai Mei (Ayodhyoa AU. 1981).
       Pada waktu musim timur, dimana angin bertiup lebih teratur kegiatan penangkapan ikan terlihat lebih aktif, hal ini berkabalikan bila musim barat sednag berlangsung. Kondisi cuaca yang kurang mendukung keselamatan berlayar membuat sebagian armada perikanan untuk menghentikan kegiatannya, terutama kapal – kapal yang yang berukuran kecil seperti kapal yang menggunakan alat tangkap pancing prawe. Bagi kapal – kapal yang mempunyai ukuran besar, cuaca buruk tidak menjadi kendala yang sulit diatasi , karena dengan ukuran kapal yang besar keselamatan kapal di laut dapat lebih terjamin sehingga di saat musim barat berlangsung armada purse seine masih tetap melakukan operasi. Fishing ground untuk kapal yang berukuran kecil tidak begitu jauh dari pantai yaitu sekitar 1 mil jauhnya dari garis pantai, hal ini disesuaikan dengan kemampuan perahunya itu sendiri (Kusnadi. 2002).
       Alat tangkap yang digunakan masyarakat nelayan Bajomulyo antara lain jaring cumi, jaring purse seine dan cantrang. Dari ketiga alat tangkap tersebut yang paling dominan adalah jaring cumi dan purse seine.
       Jaring purse seine tergolong alat tangkap baru yang dioperasikan oleh nelayan – nelayan Juwana. Alat ini mulai dikenal sejak kapal purse seine bisa masuk lokasi PPI Bajomulyo, yaitu sejak mulai diadakan pengerukan muara sungai pada tahun 1984. Panjang jaringnya berkisar 400 – 500 meter dengan ukuran dalam antara 60 – 80 meter. Tangkapan utama purse seine adalah ikan – ikan pelagis yang mempunayi nilai ekonomis tinggi, antara lain ikan layang (Decapterus sp.), kembung (Rastrelliger sp.), dan lemuru (Sardinella longiceps). Jaring purse seine selain merupakan penyumbang produksi hasil tangkapan terbesar di PPI Bajomulyo juga merupakan pemberi lapangan kerja terbesar , karena dalam setiap kali operasi membutuhkan ABK yang cukup banyak yaitu antara 35 – 60 orang per kapal (Ayodhyoa AU. 1981).
       Jaring cumi termasuk dalam alat tangkap lift net yang dioperasikan dengan cara dinaikkan atau ditarik ke atas dari posisi horizontal kolom perairan untuk menangkap ikan yang ada di atasnya dengan menyaring air. Kapal jaring cumi biasanya dioperasikan mulai menjelang malam hari hingga pagi hari berkisar antara pukul 17:00 sampai 5:00. Lampu-lampu mulai dinyalakan setelah matahari mulai terbenam, yaitu sekitar pukul 17:00. Alat tangkap jaring cumi memiliki lampu yang dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu lampu penarik atau pengumpul ikan, lampu pengarah ikan dan lampu pencari ikan. Jenis lampu penarik ikan adalah lampu galaxy 500 watt sebanyak 18 buah, sedangkan lampu pencari ikan yang digunakan adalah lampu mercury sebanyak 2 buah dan lampu pengarah ikan adalah lampu halogen 1000 watt sebanyak 4 buah. Spesifikasi alat tangkap jaring cumi dengan ukuran P = 12 m; L = 18 m; T = 5 m dengan bahan jaring Polyethylene ( MS : 3 cm ) (Barus HR, Badruddin, Naamin N. 1991).
E.      Permasalahan
       Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa responden terkait permasalahan dalam perikanan tangkap khususnya di desa Bajomulyo dapat dipahami bahwa ada dua permasalahan mendasar yaitu kondisi alam dan birokrasi perikanan tangkap. Kondisi alam yang tidak menentu dan ekstrim seperti gelombang besar, angin kencang dan lainnya menyebabkan sebagian besar nelayan tidak berani atau enggan melaut. Kondisi alam yang seperti ini juga menyebabkan sulitnya nelayan mendapatkan hasil tangkapan di daerah penangkapannya dan terkadang harus pergi berpindah melakukan penangkapan hingga ke pulau lain. Adapun terkait birokrasi mengenai izin pengadaan kapal beserta komponennya dan perizinan untuk melakukan trip masih dianggap sebagian besar nelayan terlalu ribet dan bahkan saat ini lebih susah dari pada sebelumya.
       Selain kedua masalah yang mendasar di atas terdapat masalah lain yang juga penting seperti adanya pungutan liar di laut oleh oknum petugas pemerintah tertentu dengan dalih mencari – cari kesalahan nelayan dan mereka – reka sanksi. Selain itu, peraturan yang tidak tegas mengenai jenis dan ukuran alat tangkap dan daerah penangkapan yang belum jelas.
       Berdasarkan analisis LSI mengenai pendapat/perasaan responden sebagai masyarakat nelayan secara keseluruhan tampak masyarakat nelayan desa Bajomulyo tetap optimis akan nasibnya yang akan lebih baik kedepannya tentunya dengan semangat kerja secara bersama – sama dengan kelompok nelayan yang ada maka suatu  harapan yang baik tentunya akan dapat diraih. Selain itu, tampak dari grafik LSI B menunjukkan bahwa sebagian besar nelayan bahagia dalam kondisi bekerja dalam tim dan menikmati akan kesibukannya sebagai seorang nelayan.























      VI.                 KESIMPULAN DAN SARAN
a.       Kesimpulan
·         Sebagian besar aktivitas perekonomian masyarakat di pesisir kecamatan Juwana tepatnya di desa Bajomulyo 92%  berprofesi pokok sebagai nelayan.
·         Sebagian besar masyarakat nelayan menggunakan armada dengan alat tangkap jaring cumi dan purse seine.
·         Permasalahan mendasar dalam kegiatan perikanan tangkap adalah kondisi alam dan sistem birokrasi (perizinan pengadaan armada dan komponennya dan perizinan melaut) perikanan tangkap.
·         Kegiatan perikanan tangkap di desa Bajomulyo, Juwana dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan terbukti jumlah masyarakat nelayan yang setiap tahun bertambah sehingga dapat dikatakan bahwa kegiatan perikanan di desa Bajomulyo ini cukup berhasil dalam membantu perekonomian daerah.
b.      Saran
·      Hendaknya pemerintah daerah maupun provinsi dapat melakukan tindakan tegas terhadap oknum yang sering mengadakan pungutan liar terhadap nelayan saat melaut.
·      Hendaknya pemerintah melakukan pembenahan sistem birokrasi yang telah ada karena hal ini sangat dinilai sebagian besar nelayan sebagai kendala yang cukup serius.
·      Untuk menjaga keamanan agar nelayan lebih memperhatikan dan mencari kejelasan informasi mengenai batas wilayah daerah penangkapan.






                  VII.                 DAFTAR PUSTAKA

Ayodhyoa AU. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Bogor: Yayasan Dewi Sri.
97 hlm.
Barus HR, Badruddin, Naamin N. 1991. Prosiding Forum II Perikanan; Sukabumi
18-21 Juni 1991. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan.
Badan Penelitian dan Pengembangan Perikanan Departemen Pertanian. hlm
91-105.
Basri, Hasanudin. 1985. “Beberapa Hal Mengenai Strukktur Ekonomi Masyarakat Pantai”, dalam A.S. Achmad dan S.S.Acip (ed.) Komuikasi dan Pembangunan. Sinar Harapan. Jakarta
Dahuri, R. 2005. Revitalisasi Koperasi Perikanan. Th XX, No 26
http://diskanlut-jateng.go.id/microsite/ppp-bajomulyo/profil
Kusnadi. 2002. Konflik Sosial Nelayan: Kemiskinan dan Perebutan Sumberdaya Pesisir. LkiS . Yogyakarta
Republika, 22 Juni 1993 dan Zurkamain Sumbing, “Pengembangan Wilayah Pantai Terpadu dalam Rangka Pembangunan Daerah”, dalam Prosiding V Ekosistem Mangrove, Jakarta. Panitia Program MAB LIPI,1995
Sudarso. 2007.” Tekanan Kemiskinan Struktural Nelayan Tradisional di Perkotaan” Masyarakat, Kebudayaan dan Politik. Th XX, No 2. Universitas Airlangga . Surabaya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar